Saturday, July 6, 2019

Review Aswatama

REVIEW ASWATAMA
Note: Ini adalah pembahasan tentang Aswatama dan dia di nasuverse, juga kalkulasi gameplay dia di FGO, mohon kesadarannya (bagi non-player & bagi pengunjung biasa) kalo ini akan sedikit berbeda dari kisahnya saat memasuki bagian nasuverse. Tambahan, kalo mau langsung baca bagian nasuverse, ketik CTRL + F, habis itu ketik "pembahasan nasuverse”
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Asvattama_was_arrested_and_brought_to_Draupadi_by_Arjuna.jpg
  Ya halo, jumpa lagi kita di blog ripiuw yang satu ini. Duh, sekarang hype-nya udah ganti lagi ya. Yha, mumpung masih anget-anget dikit lah, kali ini w bahas Aswatama. Karakter yang satu ini jelas dikenal banget dong di kalangan pecinta wayang maupun pecinta cerita rakyat, walaupun bapaknya masih lebih dikenal sih. Harusnya banyak dari kalian yang dah tau ceritanya juga, minimal karena nonton serialnya lah di ANTV. Buat yang belum tau dan mau baca tentang dia, yuk baca!
  Ashvatthama (Sansekerta: अश्अश्वताथा, Aśvatthāmā), Ashvatthaman (Sansekerta: अश्वत्थामन्, Aśvatthāman), Drauni, atau yang biasa orang Indonesia panggil Aswatama, adalah putra dari guru Drona dan cucu dari petapa Bharadwaja. Aswatama adalah Maharathi perkasa yang berperang di pihak Kurawa melawan Pandawa dalam Perang Kurukshetra. Aswatama dianggap sebagai avatar dari salah satu dari 11 Rudra dan salah satu dari 7 Chiranjivi. Bersamaan dengan paman dari pihak ibu yang bernama Kripa, Aswatama diyakini sebagai orang yang selamat dari Perang Kurukshetra. Plot tipuan dari 'kematian'nya menyebabkan pemenggalan kepala ayahnya, Drona, yang dilumpuhkan saat bermeditasi karena kesedihannya. Ātman, putra Aswatama, diangkat sebagai panglima terakhir Kurawa dalam Perang Kurukshetra. Aswatama, diliputi oleh kesedihan dan kemarahan, memanifestasikan kekuatan terpendamnya sebagai seorang Rudra. Dia membantai banyak kamp Pandawa dalam serangan satu malam. Ketika Arjuna mengalahkan Drupada dari Panchala, Drona menyatakan Aswatama sebagai raja baru Panchala.
  Menurut Mahabharata, Aswatama berarti "bersuara kuda". Dia disebut demikian karena ketika dia lahir, tangisannya seperti kuda.
  Aswatama adalah putra Dronacharya dan Kripi. Drona melakukan penebusan dosa yang berat selama bertahun-tahun untuk menyenangkan Dewa Siwa demi mendapatkan seorang putra yang memiliki keberanian yang sama seperti Dewa Siwa. Terlahir sebagai Chiranjivi, Aswatama dilahirkan dengan permata di dahinya, memberinya kekuasaan atas semua makhluk hidup yang derajatnya lebih rendah dari manusia. Itu melindunginya dari kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Chiranjivi adalah 7 makhluk abadi dalam Hinduisme yang akan hidup di Bumi hingga akhir Kali Yuga.
  Meskipun ahli dalam peperangan, Dronacharya menjalani kehidupan sederhana sebagai seorang Brahmana, dengan hanya sedikit uang atau harta. Akibatnya, Aswatama memiliki masa kecil yang sulit, dengan keluarganya yang bahkan tidak mampu membeli susu. Karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, Drona pergi ke Kerajaan Panchala untuk mencari bantuan dari mantan temannya, Raja Drupada. Namun, Drupada menegur persahabatan itu, mengklaim kalau seorang raja dan seorang pengemis tidak bisa berteman, lalu mempermalukan Drona.
  Setelah kejadian ini dan melihat nasib Drona, Kripacharya mengundang Drona ke Hastinapura. Di sana, dia mendapat perhatian dari rekannya, Bhishma. Dengan demikian, Dronacharya menjadi guru para Pandawa dan Korawa di Hastinapura. Aswatama dilatih dalam seni perang bersama mereka.
  Aswatama adalah tokoh terkemuka dalam perang dan terlibat dalam banyak pertempuran, meskipun tidak mencetak angka pembunuhan yang berarti sampai setelah kematian ayahnya.
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Ashwatthama_
uses_Narayanastra.jpg
  Ketika senjata yang disebut Narayanastra dipanggil, angin kencang mulai bertiup dan guruh guntur terdengar. Kemudian ribuan senjata dengan mulut menyala muncul, yang terus mengacaukan para Pandawa. Dibunuh oleh senjata Narayana, kubu Pandawa diteror dengan ketakutan besar sementara para raja mulai melarikan diri. Namun Kesava, ketika menghentikan pasukan, berkata,
'Come down on the earth, all of you from your elephants and steeds and cars and stand weaponless on the earth.'

  Karena dirinya adalah bagian dari Narayana, dia tahu tentang senjata itu. Senjata itu hanya menargetkan orang yang bersenjata sementara mengabaikan yang tidak bersenjata. Namun Bhima menolak, dengan mengatakan bahwa para pejuang tidak pernah meninggalkan senjata mereka, dan tidak ada seorang pun yang setara dengannya yang memiliki kekuatan 1000 gajah, yang bahkan dapat menarik gunung. Kemudian dia bergegas melawan Aswatama. Setelah mereka melemparkan senjata mereka dan turun dari kendaraan mereka, senjata dengan energi berlebih jatuh di atas kepala Bhima. Arjuna dan Vasudeva berhasil menutupinya dengan senjata Varuna, tapi senjata itu dianggap tidak efektif. Duryodhana menyuruh Aswatama untuk sekali lagi menggunakan senjata itu dengan cepat karena berhasrat untuk menang. Aswatama menjawab,
'That weapon, O king, cannot be brought back. It cannot be used twice. If brought back, it will, without doubt, slay the person calling it back.'

  Menurut kompilasi Chaturdhar, Narayana astra menghancurkan satu Akshauhini dari pasukan Pandava sepenuhnya. Setelah penggunaan Narayana astra, perang mengerikan antara kedua pasukan terjadi. Aswatama mengalahkan Dhrishtadyumna dalam pertempuran langsung, tetapi gagal membunuhnya ketika Satyaki dan Bhima menutupi pelariannya. Perang mengerikan terjadi antara para pejuang dari kedua belah pihak ketika Aswatama memaksa Satyaki dan Bhima untuk mundur. Dalam kemarahannya, Aswatama berhasil membunuh Raja Nila dari Mahismati.
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Sadiq,
_bhima_uccide_l%27elefante
_asvatthama,_india_del_nord,_
periodo_mogul,_1598.jpg
  Pada hari ke-10 perang, setelah Bisma jatuh, Drona diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan. Dia berjanji pada Duryodhana bahwa dia akan menangkap Yudhishthira, tetapi kemudian dia berulang kali gagal. Duryodhana mencela dan menghinanya, yang kemudian sangat membuat marah Aswatama, menyebabkan gesekan antara Aswatama dan Duryodhana. Krishna tahu bahwa tidak mungkin mengalahkan Drona yang bersenjata lengkap. Jadi, Krishna menyarankan kepada Yudhishthira dan para Pandawa lainnya untuk melakukan sesuatu. Jika Drona yakin bahwa putranya terbunuh di medan perang, maka kesedihannya akan membuatnya rentan terhadap serangan.
  Krishna memberi rencana untuk Bhima agar membunuh seekor gajah bernama Aswatama sambil mengklaim kepada Drona bahwa putranya telah meninggal. Pada akhirnya, rencana itu bekerja (meskipun perinciannya bervariasi tergantung pada versi Mahabharata), dan Dhristadyumna memenggal kepala Drona yang sedang berduka.
  Pada hari ke-14 perang, Aswatama membunuh seorang Akshuhani dari kubu Rakshasa, dan ketika Anjanaparvan menciptakan ilusi, dia menembusnya dengan Vajra dan Vayavya Astra. Dia juga membunuh Anjanaparvan dan mengalahkan Ghatotkacha beberapa kali, mampu membelokkan senjata surgawi mereka. Dia juga berdiri melawan Arjuna beberapa kali walau akhirnya dikalahkan.
  Setelah kematian Dushasana, Aswatama masih menyarankan Duryodhana untuk berdamai dengan Pandawa mengingat kesejahteraan Hastinapura, tetapi dia menolak. Kemudian, setelah Duryodhana dipukul mundur oleh Bhima dan hampir tewas, Aswatama, Kripa dan, Kritvarma datang ke sisinya. Aswatama bersumpah untuk membalaskan dendam Duryodhana, dan Duryodhana mengangkatnya sebagai panglima tertinggi.
  Beberapa hari kemudian, setelah mendengar kalahnya Duryodhana, dia pergi menemuinya dan berjanji akan mengirim semua pasukan Panchala ke kediaman Yama. Bersama Kripa dan Kritavarman, dia berencana untuk menyerang kubu Pandawa di malam hari.
  Aswatama pertama-tama menendang dan membangunkan Dhrishtadyumna, komandan pasukan Pandawa dan pembunuh ayahnya, Drona. Aswatama mencekik Dhrishtadyumna yang setengah sadar hingga mati ketika pangeran Panchala memohon agar dia dibiarkan mati dengan pedang di tangannya. Aswatama melanjutkan misinya dengan membantai para prajurit yang tersisa, memotong anggota tubuh mereka dan merobek mereka menjadi dua dengan pedangnya, termasuk Shikhandi, Yudhamanyu, Uttamaujas, dan banyak pejuang terkemuka lainnya dari pasukan Pandava. Dia tetap tidak terluka meskipun terkena semua serangan gabungan mereka. Itu disebabkan oleh bangkitnya kemampuannya sebagai salah satu dari 11 Rudra, pengikut Siwa. Mereka yang mencoba melarikan diri dari amarah Aswatama dibunuh oleh Kripacharya dan Kritavarma di pintu masuk kamp dan mereka yang tersisa dibantai oleh Aswatama.
  Setelah pembantaian, tiga prajurit pergi untuk menemui Duryodana. Mereka menemukan Duryodhana sudah mati. Berkabung, mereka melakukan upacara kremasi.
  Pandawa dan Krishna yang sedang pergi pada malam hari, akhirnya kembali ke camp mereka keesokan paginya. Mendengar berita tentang peristiwa itu, Yudhishthira pingsan. Bhima dengan marah bergegas ingin membunuh Aswatama. Para Pandawa, bersama dengan Krishna, pergi untuk menyelamatkan Bhima. Mereka menemukannya di asrama petapa Vyasa di dekat tepi Bhagiratha.
https://en.wikipedia.org/wiki/File:Narada_
and_Vyasa_came_to_stop_
Brahmasironamakastra_used_by_
Aswatthama_and_Arjuna.jpg
  Aswatama yang sekarang marah menembakkan Brahmashirastra untuk melawan Pandawa demi memenuhi sumpah yang telah diberikannya kepada Duryodhana. Krishna meminta Arjuna untuk menangkis Brahmashirastra demi melindungi. Petapa Ved Vyas campur tangan dan mencegah 2 senjata itu bertubrukan. Dia meminta Arjuna dan Aswatama untuk mengambil senjata mereka kembali. Arjuna mematuhinya, lalu membawa senjatanya kembali. Namun karena marah, Aswatama malah mengarahkan senjatanya ke rahim Uttara yang sedang hamil dalam upaya untuk mengakhiri garis keturunan Pandawa. Para Pandawa yang marah ingin membunuh Aswatama, tetapi petapa Vyasa mengingatkan mereka tentang taktik curang yang mereka gunakan untuk melawan Kurawa.
  Sebagai hukuman, Aswatama diminta oleh Vyasa untuk menyerahkan permata di dahinya ke kubu Pandawa sebagai wujud pengampunannya. Krishna kemudian mengutuk Aswatama agar dia berkeliaran di hutan dengan darah dan nanah keluar dari luka-lukanya dan menangis meminta kematian selama 3000 tahun. Karena dia tidak takut mati selama perang, kematian tidak akan bertemu dengannya.
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:
Aswatama-kl.jpg
  Di versi Jawa, riwayat hidup Aswatama memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab Mahabharata. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.
  Dalam pewayangan Jawa, Aswatama juga dikenal sebagai putra Bhagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Kripi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Dia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika dirinya masih dikandung, Dewi Krepi sedang beralih wujud menjadi kuda sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi lautan. Aswatama berasal dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya, dia memihak para Kurawa saat perang Bharatayuddha. Ketika ayahnya menjadi guru keluarga Pandawa dan Kurawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Dia memiliki sifat pemberani, cerdik, dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah Cundamanik.
  Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama anaknya, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti "Gajah") tapi terdengar seperti Aswatama. Drona menjadi putus asa setelah dia menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Yudistira yang dikenal tak pernah berbohong. Aswatama merasa kecewa dengan sikap Duryodana yang terlalu membela Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Karna. Aswatama memutuskan untuk mundur dari Perang Bharatayudha. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Hastinapura, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Dia berhasil membunuh Drestadyumna (pembunuh Drona), Pancawala (putera Puntadewa alias Yudistira), Banowati (Jandanya Duryodana), dan Srikandi. Diceritakan bahwa akhirnya dia mati oleh Bima, karena badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.

========================================================================

Ok, sekarang masuk ke pembahasan nasuverse
  Namanya adalah Ashwatthama (アシュヴァッターマン, Ashuvattāman).
  Aswatama adalah pejuang yang keras dan mencintai pertempuran. Dia juga memiliki tekad baja dan tidak akan berhenti untuk membalaskan dendam teman-temannya yang tumbang, yang kemudian diwakili dalam skill Violation of Chivalry.
  Penuh kemarahan dan keinginan berkelahi. Dia berbaris dengan Karna di Mahabharata dan disebut prajurit Brahmana terkuat.
  Penuh kemarahan, amukan, terus berjuang sampai batas kekuatannya.
  Dia adalah satu pahlawan yang muncul di Mahabharata. Ayahnya adalah pahlawan Brahmana Drona. Dalam perang besar yang diceritakan dalam epik, dia menyukai ayahnya, menempel di sisi Duryodhana, dan membuka konflik mengerikan dengan 5 bersaudara Pandawa bersama dengan Karna.
  Setelah semua orang berpengaruh dari pihaknya sendiri, termasuk Karna, meninggal, dia melanggar janjinya sebagai seorang prajurit karena marah, dan melakukan serangan malam. Dikatakan kalau dia membantai ribuan orang saat itu.
  Ngomong-ngomong, dia ini memang suka marah. Marah untuk hal yang tidak masuk akal, marah karena kesedihan, marah karena kesombongan, dll. Namun, dia bersumpah untuk tidak pernah membenci. Dia selalu ingin menjadi seseorang yang mengajukan keberatan terhadap dunia yang tidak masuk akal. Mengesampingkan alasan bijak, tidak peduli siapa yang dia hadapi, dia akan meledakkan mereka dengan tenang jika mereka tidak meyakinkannya.
  Dalam HGW, dia adalah jenis yang menganggap kompatibilitas dengan Master sangat penting. Jika hubungannya buruk, dia ga akan segan untuk berpikir tentang penghancuran diri di pertempuran pertama.
  Meski merasa dirinya penuh dosa, dia tidak menginginkan pengampunan dengan cara instan seperti menggunakan grail.
  Di LB4, dia awalnya disummon oleh Pepe. Namun ketika Arjuna Alter dihasut oleh Douman, kontraknya direbut oleh Arjuna dan pengetahuannya digunakan untuk memanggil Servant lain. Awal kelompok kita bertemu dengannya adalah saat kita ingin melarikan diri dari NP Arjuna. Aswatama mengejar Shadow Border, menerima Vasavi Shakti, dan masih hidup meski dengan luka parah.
  Beberapa chapter kemudian, kita bertemu dengannya lagi. Kali ini dia berbicara dengan Rama. Dia bercerita kalau dia dikutuk oleh Arjuna yang menggunakan otoritas Wisnu. Sebagai salah satu avatar Wisnu, Rama bisa mencabut kutukan itu dan menempatkannya di tubuhnya sendiri. Sebagai rasa terima kasih, dia berpindah ke pihak kita. Dengan menggunakan kekuatan sebagai avatar Siwa, dia memberi sebagian kekuatan dewanya pada Karna, lalu melatihnya di dimensi tanpa waktu. Dia juga mengirim Ganesha dan Lakshmi Bai ke masa lalu menggunakan NP keduanya.

ATK: 1,708/10,249
HP: 1,799/11,245
Grail ATK: 12,409
Grail HP: 13,634
Voice Actor: Tatsuhisa Suzuki
Illustrator: pako
Attribute: Sky
Growth Curve: Linear
Star Absorption: 153
Star Generation: 8.1%
NP Charge ATK: 0.58%
NP Charge DEF: 3%
Death Rate: 31.5%
Alignments: ChaoticNeutral
Gender: Male
Height/Weight: 188 cm, 81 kg
Source: Mahabharata
Origin: India
Role: defensive buff remover, buster damager
Traits: Brynhildr's Beloved, Divine, Humanoid, Male, Servant, Weak to Enuma Elish







DECK
QQABBEx
Q: 4 hit
A: 4 hit
B: 5 hit
Ex: 4 hit
  Untuk NP gain, chain terbaik dia adalah AQQEx. Dengan NP charge atk 0,58%, Quick up 30% dari skill 3 level 10, asumsikan ga crit maupun overkill, jadinya:
Arts + Quick + Quick + Extra
= 9,28% + 6,84% + 8,35% + 4,64%
= 29,12%

  Untuk stargen, chain terbaik dia adalah QBQEx. Dengan stargen 8,1%, Buster up 30% dari skill 2 level 10, Quick up 30% dari skill 3 level 10, Buster up 5% dari passive, asumsikan ga crit, jadinya:
Quick + Buster + Quick + Extra
= 528,4% + 238% + 1048,4% + 512,4%
= (5 star dan 28,4% untuk 6 star) + (2 star dan 38% untuk 3 star) + (10 star dan 48,4% untuk 11 star) + (5 star dan 12,4% untuk 6 star)
= 22~26 star

  Dia bisa melakukan Buster chain lewat NPBB. Dengan stat atk 11249 di level 80 (udah 1000 Fou), Buster up 30% dari skill 2 level 10, crit dmg up 22% dari passive, Buster up 5% dari passive, divinity 215, base multiplier 0,95x, jadinya:
NP + Buster + Buster
= NP + 23162,65 + 29937,19

NOBLE PHANTASM
1.    Sudarshan Chakra Yamaraj - The Chakra that Stirs Up My Raging Flames
Rank: A+
Classification: Anti-Army
Type: Buster
Hit-Count: 5
Range: 1~50
Maximum number of targets: 500 people
Effect: Deals damage (NP1 600%) to one enemy + Removes their defensive buffs
(Defensive Buffs: Defenseup, Avoid, Invincible,  Tauntstatus, Maxhpup)
Overcharge Effect: Deals extra damage to them based on own remaining HP.
(Extra Damage Formula = Multiplier Based on Overcharge (600~1000% tergantung OC) * [1 - (Current HP/Max HP)])
“The oath of warriors is far since gone, and we’ve been corrupted! And still I raged for the corruption, and kept raging towards myself! Dash. O Chakra, Stir Up my Raging Flames - Sudarshan Chakra Yamaraj!!!”
-Archer
“Yeah, alright! I’LL KILL YOU ALL!! If I’m the warrior that brings death, I’ll tear thee up with the indestructible blade. O Chakra, Stir Up my Raging Flames - Sudarshan Chakra Yamaraj!!!”
-Archer

Sudarshan Chakra Yamaraj: The Chakra that Stirs Up My Raging Flames ( 転輪よ、憤炎を巻き起こせスダルシヤンチヤクラ ・ヤムラ一ジ) adalah NP milik Aswatama.
Ini unik karena dia tidak pernah memilikinya saat hidup. Dia membawa chakram besar di tangannya saat disummon sebagai Servant, dengan bebas memanipulasi senjata ini, dan terus mengukirnya dalam ingatannya sebagai seorang pejuang. Dengan kata lain, semua teknik penggunaan chakramnya ini dia pelajari secara otodidak, tidak diajarkan oleh siapa pun.
Kalo ga salah ini merujuk dari kisahnya yang ingin mengangkat Chakra Sudharsana milik Krishna, tapi ga kuat.
Untuk kalkulasi dmg, kita kumpulin data dulu. Dengan stat atk 11249 di level 80 (udah 1000 Fou), NP1 600%, Buster up 30% dari skill 2 level 10, Buster up 5% dari passive, divinity 215, base multiplier 0,95x, jadinya sekitar 30.078,56. Ga terlalu tinggi untuk ukuran goldie. Namun, NPnya ini sama kaya Anne-Mary dan Hijikata, yaitu akan meningkat dengan semakin tipisnya HP. Asumsikan HP dia tinggal 1 tapi max HP dia juga udah 1000 Fou, jadinya:
OC 100% = 59.939,69
OC 300% = 69.893,4
OC 500% = 79.847,11
Tinggi banget kan. Anne-Mary aja kalah kok. Namun, memang sangat beresiko kalo kita sengaja mengurangi HPnya untuk meningkatkan damage.
2.    Mahākāla Shakti - O Great Time, Revolve this Moment
Rank: ?
Classification: ?
Range: ?
Maximun number of targets: ?
Belum ada penjelasan tentang NP ini, tapi ini adalah NP yang memberinya kemampuan yang berkaitan dengan waktu. Aswatama menggunakannya untuk melatih Karna di dimensi tanpa waktu dan mengirim Ganesha + Lakhsmi Bai ke masa lalu. Kalo kita telusuri istilah Mahakala, kita bisa menemui satu dua hal yang mungkin berkaitan.
Mahakala (bahasa Sansekerta: महाकाल; IAST: Mahākāla) adalah dewa umum di Hindu, Budha, dan Sikhisme. Menurut agama Hindu, Mahakala adalah manifestasi dari Siwa dan merupakan permaisuri dari Dewi Kali. Mahākāla juga muncul sebagai dewa pelindung yang dikenal sebagai dharmapala dalam paham Buddhis Vajrayana. Dia dikenal sebagai Dàhēitiān dan Daaih'hāktīn ( ) dalam bahasa Mandarin dan Kanton, Daeheukcheon ( 흑천) dalam bahasa Korea, dan Daikokuten ( ) dalam bahasa Jepang. Dalam Sikhisme, Mahākāla disebut sebagai Kal, yang merupakan raja Maya (sihir, kekuatan, kebijaksanaan).
Menurut Shaktisamgama Tantra, dia sangat menakutkan. Mahakala memiliki 4 lengan, 3 mata, dan memiliki kecerahan 10 juta api hitam yang mampu enguraikan, berdiam di tengah-tengah 8 lahan kremasi. Dia dihiasi dengan 8 tengkorak, duduk di atas 5 mayat, memegang trisula, drum, pedang, dan sabit di tangannya. Dia dihiasi dengan abu dari tanah kremasi dan dikelilingi oleh banyak burung bangkai dan serigala yang bersuara dengan keras. Di sisinya adalah permaisuri Kali, dan mereka berdua mewakili aliran waktu. Baik Mahakala maupun Mahakali mewakili kekuatan penghancur utama Brahman dan mereka tidak terikat oleh peraturan apa pun. Mereka memiliki kekuatan untuk melarutkan waktu dan ruang bahkan ke dalam diri mereka sendiri dan eksis sebagai ketiadaan saat peluruhan alam semesta (Pralaya). Mereka bertanggung jawab atas peluruhan alam semesta di ujung Kalpa. Mereka juga bertanggung jawab untuk memusnahkan kejahatan dan daemon ketika dewa-dewa lain, dan bahkan Trimurti gagal melakukannya. Mahakala dan Kali memusnahkan pria, wanita, anak-anak, hewan, dunia, dan seluruh alam semesta tanpa belas kasihan karena mereka adalah Kala atau Waktu dalam bentuk yang dipersonifikasikan dan waktu tidak terikat oleh apa pun, tidak menunjukkan belas kasihan, juga tidak menunggu apa pun atau siapa pun. Di beberapa bagian Odisha, Jharkhand, dan Dooars (di Bengal utara), gajah liar disembah sebagai Mahakala
3.    Brahmashirsastra - O’ Light, Show the Sea of Death
Rank: EX
Classification: Anti-Land
Rank: 1~30
Maximum number of targets: All within the range
Ini adalah senjata pamungkas yang diberikan oleh ayahnya, Drona. Aswatama dikatakan tidak menggunakan senjata ini dalam kegiatan apa pun, tetapi dia diberitahu bahwa dia tidak diizinkan menggunakannya. Namun, Aswatama akhirnya mengaktifkannya setelah kematian Duryodana.
Senjata sabotase ini, yang memiliki kekuatan destruktif yang mengikis dunia, masih bisa ditangkis Arjuna dengan kekuatan penuh. Namun, seluruh area di sekitarnya menjadi tanah tandus selama 12 tahun.
Meski terdaftar sebagai NP, dia tidak pernah menggunakannya di FGO. Btw, dalam timeline Mahabharata, yang punya senjata ini cuma Petapa Agniseva, Drona, Arjuna, dan Aswatama. Hanya Arjuna yang punya pengetahuan tentang cara melepaskan lalu menariknya lagi, sedangkan 3 yang lain hanya tahu cara melepasnya. Dari tingkat kekuatan, Brahmashirsa itu lebih kuat dari Vajra dan Brahmastra, yang lebih kuat dari Vasavi Shakti.

ACTIVE SKILL
1.      Chintamani
Rank: B
Effect: Grants self Invincibility for 1 turn + Charges own NP gauge (30% di level 10)
Cooldown: 8/7/6
A.k.a Gem of Mani, adalah permata yang tertanam di dahinya sejak dia lahir. Dengan ini, dia mampu mempertahankan dirinya dari iblis dan binatang buas. Juga, pada akhir kisahnya, dia menyerahkan batu ini sebagai bukti penyerahan diri.
Untuk gameplay, skill ini membuatnya kebal serangan selama 1 turn dan membuatnya bisa langsung NP bila punya NP starter.
2.      Violating the Chivalric Code
Rank: A
Effect: Increases own Buster performance (30% di level 10) for 3 turns + Inflicts Defense Down (20% di level 10) for 3 turns to enemy when attacking with Buster Cards for 3 attacks, 5 turns.
Cooldown: 7/6/5
Sumpah yang muncul di antara para pejuang, di Mahabharata, yang pada akhirnya dia injak-injak. Pembalasan adalah pembalasan, dan pelanggaran membuat pelanggaran lain muncul. Aswatama, yang terlalu geram, melakukan serangan malam yang tidak terhormat, dan menumpas musuh.
Untuk gameplay, ini meningkatkan fungsi Buster dia baik dalam damage maupun hal lain. Dengan skill ini pula, dia akan memberikan def down ke musuh yang diserang dengan Buster card-nya (Mirip kaya Hokusai, tapi cuma untuk 3 hit).
3.      Maharatha
Rank: A+
Effect: Increases own Quick performance (30% di level 10) for 3 turns + Increases own critical damage (30% di level 10) for 3 turns when attacking with Quick Cards for 3 attacks, 5 turns.
Cooldown: 7/6/5
A.k.a Warrior of the Emperor berasal dari anekdotnya sebagai prajurit terbaik yang muncul di Mahabharata, dipuja setara dengan Karna dan Arjuna. Dengan menggabungkan skill ini dengan Violation of Chivalric Code dan Rudra Awatara, dia menjadi lebih dari seorang prajurit gila, bahkan melampaui Berserker.
Untuk gameplay, skill ini meningkatkan fungsi Quick card baik di damage, stargen, dll. Mirip dengan skill 2, skill ini memberi sesuatu bila card tertentu digunakan dan hanya berlaku untuk 3 hit. Jika skill 2 memberi debuff ke musuh, maka skill ini memberinya crit dmg up setiap kali dia menyerang dengan Quick card. Ini tentu cocok karena kelasnya (Archer) memungkinkannya untuk ngecrit dengan mudah.

PASSIVE SKILL
1.      Magic Resistance
Rank: A
Effect: Increases own debuff resistance by 20%.
Membatalkan mantra A-Rank atau yang lebih rendah, tidak peduli meski itu High-Thaumaturgy.
2.      Independent Action
Rank: EX
Effect: Increases own critical damage by 12%.
Dia dapat beroperasi tanpa Master. Namun, untuk menggunakan Noble Phantasm dengan konsumsi Mana yang besar, cadangan dari Master diperlukan.
3.      Rudra Avatāra
Rank: EX
Effect: Increases own Buster performance by 5% + Increases own critical damage of Buster Cards by 10% + Grants self Mental Debuff Immunity.
(Mental Debuffs: Charmstatus, DelayedDebuff Skillseal, DelayedDebuff Stunstatus)
A.k.a Personification of Rage, merupakan skill yang menunjukkan dia yang setengah tubuhnya menampung kekuatan Siwa. Sekalinya amarahnya terbakar, maka tidak akan pernah berhenti sampai dia mengalahkan musuhnya.
4.      Divinity
Rank: A+
Effect: Increases own damage by 215.
Karena dia memiliki aspek Siwa.

BOND CE
Name: The One That I Couldn't Obtain
Illustrator: moryo
Min/Max ATK: 100/100
Min/Max HP: 100/100
Stars: 4
Cost: 9
Max Level: 80
Craft Essence ID: 1023
Effect: When equipped on Aśvatthāman, increases party's Buster performance and critical damage by 15% and reduces party's defense by 10% [Demerit] while he is on the field.
Lore:
I have always desired for strength.
I have always wanted the proof of strength.
I have always longed for honour.
I have always wanted the pride of my status as a warrior.
In order to obtain everything, I have hurt others, and I have also acted very disgracefully
As well as conducting very horrendous acts.
......As a result, I was unable to obtain this chakram.
During the time when I was alive, I could only reach my arms out towards this weapon.
I still desire strength.
I still desire the strength to protect you.
I will protect, protect, and continue to protect―――until the day I die in battle.
And even if I die in this manner, I would never regret it.
So, as I pledge,
and strangely, due to that oath, I have finally got used to this weapon of mine.
This weapon has became my pride.
What I should protect is now on my back.
And that is Aśvatthāman, in its entirety.

Saran CE
Black Grail
Golden Sumo
Launch Order!
Wolves of Mibu
Party Time
First Valentine
Kaleidoscope
Imperial Capital Holy Grail War
Holy Maiden's Teaching
Awakened Will
Divine Banquet
Victor From the Moon
Dll

Saran Servant separty
Merlin
Waver
Hans
Chiron
Helena
Shakesepare
Raikou Summer
Nighty
Stheno
Dll

Kelebihan
Hit-count banyak
Stargen bagus
Stat atk tertinggi kedua di antara SR Archer, dan HPnya juga ga buruk
Bisa memberi debuff dan buff yang berbeda lewat card
NP dmg tinggi kalo sekarat

Kekurangan
NP gain kurang
NP dmg rendah, situasional supaya jadi tinggi.

Kesimpulan
Skillset Aswatama bener-bener bagus dari segi ofensif. Meski NP dia situasional, tapi skillnya itu membuatnya memiliki potensi damage yang sangat tinggi di serangan biasa sehingga dia pantas berdiri di papan atas SR Archer.

Sekian artikel kali ini, yuk kalo mau komen (sekedar iseng) ataupun kritik
Jangan lupa follow ya














7 comments:

Unknown said...

Review mordred Gan.Nanggung saberface yang belum direview cuma dia ya

Ooi-chan said...

Cuma nyoba ngangkat aja bisa jadi NP? DW bercanda!!!

SAIKYO said...

Kan karena sunpahnya di Bond CE makanya dia jadi layak buat megang itu.

Unknown said...

Servant dari mitologi india siapa aja sih

Birb Dechi said...

Baru Arjuna (+ versi Alter), Rama, Karna, Aswatama, Kama
Sita cuma jadi cameo

siwa said...

Parvati?

Anonymous said...

Kesimpulan = Syarat jadi Archer cuma satu: salah satu serangannya harus lempar barang meski lebih sering nonjok dan lain-lain

Singularity Point F - Fuyuki

Singularity Point F – Fuyuki: The Contaminated City in Flames Translated from: http://www.fgostory.blogspot.com/p/main-story.html Sou...

Popular Posts